Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

 


Petani jahe Merah di Sukabumi Kebanjiran Berkah Harga Melonjak 3X lipat



SUKABUMIKITA.COM - Dengan adanya COVID-19 nyaris melumpuhkan sendi perekonomian, tidak hanya Indonesia, pandemi Covid-19 mengancam nyaris seluruh negara di seluruh dunia.
Sejumlah ekonomi global memprediksi jika ekonomi dunia melambat di tahun 2020 ini.

Sejumlah negara diprediksi akan lumpuh tidak akan mencapai target pertumbuhan ekonomi mengingat terhenti
sejumlah industri, menurunnya daya beli, akibat beberapa aktivitas masyarakat dibatasi dalam rangka memutus rantai COVID-19 atau pencegahan penularan virus yang asal dari negara tetangga ini.

Berbeda dengan masyarakat perkotaan, sebagian masyarakat pedesaan yang mampu memanfaatkan peluang justru mendapat banyak harapan. 
Dimasa ini permintaan terhadap produk pertanian khususnya hasil kebun meningkat secara signifikan.

Petani jahe merah, jahe emprit, jahe gajah, empon-empon, dan penghasil rempah lain yang cukup mengandung vitamin C serta dipercaya dapat menaikkan imun kekebalan tubuh saat ini diuntungkan.
Melihat ekonomi dirasakan oleh kelompok petani penghasil Jahe Merah di Kampung Mulyajaya, Desa Cihaur, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa barat. 

Mereka yang tergabung dalam Kelompok Tani Mekarjaya, mengaku pandemi Covid-19 memberi berkah tersendiri, pasalnya permintaan akan Jahe merah akhir-akhir ini melonjak dengan harga jual yang ikut tinggi, mengingat komoditi ini menjadi salah satu tanaman herbal yang paling dicari karena diyakini berkhasiat memperkuat imunitas atau daya tahan tubuh. 
Hal tersebut diungkap oleh Nana Supriyatna, Ketua Kelompok Tani Mekarjaya, menurutnya permintaan serta harga Jahe terjadi peningkatan. 

                                                                        LIHAT VIDEO
              

"Pamor Jahe merah mendadak meningkat tinggi di masa pandemi COVID-19 ini, lantaran Jahe diyakini bisa meningkatkan imun kekebalan tubuh juga dipercaya bisa menangkal virus. Imbasnya para petani kecipratan berkah," menurut Nana Supriyatna. 
Menurut Nana, harga Jahe merah di tahun 2019 hanya berada dikisaran harga 25 000 rupiah perkilogram, namun mulai bulan Maret hingga April 2020, harga Jahe merah dipasaran mencapai 60 000 rupiah perkilogram. 
Tidak hanya Jahe merah saja, seperti Jahe Gajah juga mengalami lonjakan harga, dari tahun lalu Rp 8 000, saat ini harga jual mencapai Rp 25 000 perkilogram. 

Tidak hanya harga yang meningkat tinggi, permintaan pasar Jahe terus meningkat, hal ini, anggota Poktan Mekarjaya dituntut untuk lebih optimal meningkatkan jumlah luas tanam untuk bisa menutup permintaan pasar. 

Namun demikian, menurut Nana, terjadi sedikit kendala dalam meningkatkan luas tanam Jahe di wilayah Kampung Mulyajaya, Cihaur. 

"Saat ini anggota poktan selain memanfaatkan halaman rumah dalam budidaya jahe merah, mulai merambah berkebun dengan lahan yang cukup luas. Untuk kendala, kami sedikit kesulitan modal untuk membuka lahan baru. 

"Kendala lainnya, kami membutuhkan pengadaan mesin crusher pembuat kompos, dengan luas lahan, lebih banyak dibutuhkan pupuk kompos untuk media tanam," beber Nana. 

Tidak hanya menjual jahe merah hasil panen saja, Poktan Mekarjaya menjual bibit jahe yang usia 4 bulan, dan permintaan bibit jahe juga mengalami peningkatan. 



"Saat ini kami masih menggunakan sistem manual maupun memanfaatkan mesin lama. Seandainya ada bantuan dari pemerintah untuk kelompok tani kami sangat berharap." Ungkapnya.(*)